Matematika Realistik

MATHEMATICS IN THE REAL WORLD

Pendahuluan

Dua tantangan yang selalu dihadapi oleh guru adalah, pertama mampu memberikan dorongan kepada muridnya agar tertarik dalam pembelajaran mereka dan membuat mereka merasa bahwa apa yang dipelajarinya itu benar-benar sangat berguna (worthwhile). Dan yang kedua, adalah bagaimana mereka memperoleh gagasan (ideas), konsep(concept) dan keahlian (skills) melalui proses pembelajaran yang benar-benar bermakna (Floyd, et al., 1972, h. 1). Untuk menjawab semua tantangan tersebut Freudental (1973: dikutip di Reusser & Stebler, 1977) menyarankan bahwa pembelajaran matematika hendaknya diubah ke dalam konteks yang akrab dengan kehidupan anak (structuring of reality which is familiar with students daily life). Hal serupa juga diketengahkan oleh Burton (di Mathematics Teacher 140, 1993) bahwa melalui belajar matematika di dunia nyata (the real world) diharapkan murid akan merasa lebih akrab dan senang dengan materi yang dipelajarinya serta mampu memahami (make sense) materi itu melalui aktivitasnya.
Dengan membawa dunia nyata dalam pengajaran matematika diharapkan guru tidak memaksa muridnya untuk selalu mengikuti cara berfikirnya dan cara yang ada dalam buku teks (the teacher does not push students to follow their thinking and textbook). Oleh karena itu proses pembelajaran matematika yang baik menurut Burton (di Mathematics Teacher 140, 1993) dan Davis et al. (1991; di Mathematics Teacher 137, 1991) adalah mampu mendorong murid untuk menciptakan dan membangun pemahamannya sendiri (construct and develop their own understanding).
Pengajaran di kelas membutuhkan konteks Sebagaimana disarankan oleh Lovitt dan Clarke (1980: dikutip di Smith, 2000) bahwa guru matematika perlu melakukan langkah inovatif (innovative ways) dalam mengajarkan matematika. Guru perlu menyajikan model pengajaran matematika yang melibatkan aktivitas fisik (physically involved), menggunakan teknologi informasi, mendorong murid untuk melakukan penulisan matematika (writing about the mathematics).

Adapun langkah inovatif yang diarahkan untuk terciptanya pembelajaran matematika dalam dunia nyata tersebut, dapat dilihat pada bentuk-bentuk pembelajaran berikut ini:

  1. Menggunakan tema (theme) untuk materi matematikanya (use a theme as a focus for mathematics contents)
  2. Menggunakan video (making use of video snippets)
  3. Menghubungkan matematika dengan masalah-masalah sosial dan lingkungan hidup (linking mathematics to social and environment issues)
  4. Membawa pengajaran matematika di luar kelas (taking mathematics outside the classroom)
  5. Pengajaran matematika dengan menggunakan spreadsheet
  6. Pemodelan matematika (mathematics modelling)
  7. Investigasi penerapan matematika dalam dunia kerja (investigating mathematics application in the workplace) (Smith, 2000, h.3)

Peran guru (the role of teacher)

Dalam pembelajaran matematika dunia nyata lebih menekankan pada keaktifan siswa, oleh karenanya akan terjadi pergeseran peran guru dari ‘guru akting di depan kelas dan murid menonton’ ke ‘siswa aktif bekerja untuk membangun pengetahuan baru’. Oleh karenanya, tugas guru dalam pembelajaran matematika dunia nyata lebih terfokus pada membantu siswa dalam menciptakan dan membangun pengetahuan barunya (the role of teachers is as a fellow learner).
Keuntungan pembelajaran matematika dunia nyata
Beberapa keuntungan dalam pembelajaran matematika dunia nyata diantaranya:

  1. Pembelajaran matematika dunia nyata lebih memberikan makna pada siswa karena dikaitkan dengan kehidupan dunia nyata. Konteks dunia nyata yang digunakan untuk sumber pembelajaran dapat berperan sebagai penguat kesan ( a memory jogger).
  2. Siswa lebih senang dan lebih termotivasi.
  3. Aplikasi mata pelajaran benar-benar terdemonstrasikan

Penutup
Pembelajaran matematika di dunia nyata akan lebih dapat, pertama, meningkatkan motivasi siswa, sebab model pembelajaran ini berusaha menghadirkan matematika sebagai sesuatu yang akrab dengan kehidupan anak. Kedua, pembelajaran ini akan lebih bermakna (meaningful) dan sekaligus memberikan pemahan yang sebenarnya (real understanding) pada diri siswa.
REFERENSI
Smith, R., 2000, Applying Mathematics to the Real World (Study Guide), Deakin University, Melbourne.
Burton, L., 1993, ‘Working Together’, in Mathematics Teacher 140, September 1993.
Reusser, K and Stebbler, R., 1997, ‘Every Word Problem has a Solution: The Social Rationality of Mathematics Modelling in School’, in Learning and Instruction, Elsevier Science, Ltd., Great Britain, Vol. 7 No. 4, 1997, pp. 309-327.
Floyd, P. J. et al., 1972, Mathematics from Outdoors, Chatto & Windus (Educational)
Ltd., London.
Davis, R, Maher, C & Nodding, N (eds.), 1991, ‘Constructivism View on the Teaching and Learning Mathematics’, in Mathematics Teacher 137, December 1991.
*H. Mutadi, S.Pd., M.Ed.

By sharrywatie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s